Penulis: Dini Fitria
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013, Cetakan II
Sinopsis:
Diva, seorang wartawan Indonesia
yang melakukan perjalanannya ke Eropa, untuk meliput Islam di Eropa. Hakima
adalah mualaf pertama yang ditemui oleh Diva. Kisah masa kelamnya yang membuat
miris hati, membulatkan tekad Hakima untuk bunuh diri di Rel Kereta Nederlandse
Spoorwayen, Belanda. Beruntunglah ada dua orang malaikat yang menolongnya dari
hantaman kereta itu dan menolongnya dari kesesatan.
Alasan Diva memilih patuh kepada
atasan untuk memilih mengambil liputan di Eropa, tidak lebih dari melupakan
masa kelamnya bersama pria yang dahulu pernah menjadi belahan jiwanya. Alasan
perjodohan karena ibu pria itu sakit keras adalah sebab dari pupusnya jalinan
cinta mereka.
Banyak seorang mualaf yang Diva
temui di berbagai negara di Eropa itu, menginspirasi Diva dalam memperlihatkan
perjuangan mereka menegakkan agama Islam di Benua itu. Salah satu yang paling
memginspirasi Diva adalah Arturo Cerculli, dengan nama Islamnya Muhammad Arturo
Cerculli, Walikota Italia pertama yang beragama Islam. Sepak terjangnya di
dunia politik telah membuat keberadaannya sebagai Muslim mencuat kepermukaan.
Terpilihnya Aturo sebagai walikota pada tahun 2008, menjadi sorotan publik dan
sempat menuai kontroversi. Namun, karena ketulusannya menjadi pemimpin dan
kedekatannya dengan rakyat, membuat Arturo terpilih kembali sebagai Walikota
Italia pada masa kepemimpinan 2013-2017.
Ada pula seorang gadis berumur 21
tahun yang memilih berpisah rumah dengan orangtua dan keluarganya, untuk
membulatkan tekadnya menjadi seorang mualaf. Tinggal sendiri di apartemen kecil
dengan fasilitas seadanya, dan bekerja di sebuah toko pusat perbelanjaan
olahraga yang cukup besar dan lengkap, tetapi sayang, pimpinan di tempat
kerjanya tidak mengizinkan dia memakai jilbab.
Tujuan Diva berikutnya adalah
Barcelona, salah satu kota tujuan dunia. Namun, kabar buruk pun datang, ibunya
sakit keras hingga dirawat di rumah sakit, semua saudara hingga ayahnya menghubungi
Diva untuk cepat pulang. Apakah ibunya dapat kuat melawan penyakitnya? Apakah
Diva dapat menemukan pengganti belahan jiwanya yang dahulu? Atau malah kembali
dengannya? Apakah Diva akan melanjutkan perjalanannya membelah Benua Eropa?
Entahlah, semua jawabannya ada di akhir cerita ini.
Kelebihan dan Kekurangan:
Penulis memakai bahasa yang apik
dan mengalir, pembaca dapat mereka-reka kejadian yang penulis ungkapkan.
Pembaca akan mengira penulis adalah tokoh Diva dalam cerita ini. Namun, pada
bab tiga, alur yang digunakan penulis dalam menceritakan tokohnya sedikit
membingungkan. Sebelumnya menjelaskan si “aku” adalah Diva, tetapi pada bab
tiga, tiba-tiba si “aku” adalah Hakima, cukup membingungkan memang untuk mereka
yang kurang konsentrasi membaca naskah ini. Lalu pada bab ini pula telah
dijelaskan dua mualaf beserta sejarahnya, tetapi dengan alur yang
berputar-putar, bisa saja membuat pembaca tertukar dengan masing-masing
sejarahnya.
Desain yang digunakan sangat
mengambil perhatian pembaca, lembut dan indah. Tata letak gambar pada cover dan pemilihan font terlihat
berkesinambungan, serta pengambilan warna lembut, seperti coklat muda,
sebagai warna utama, lalu di goreskan warna-warna terang dengan menggambarkan
gedung-gedung ciri negara-negara di Eropa, dan judul yang tertulis dengan warna
coklat tua yang lembut. Sangat padan pembuatan cover ini, sehingga pembaca jatuh cinta melihat pertama kali.
Dengan membaca novel ini membuat
saya bersyukur menjadi Muslim di Indonesia dengan kebebasannya beragama. Tidak
seperti di Eropa dengan undang-undang yang melarang rakyatnya memakai
tanda-tanda keagamaan. Para mualaf di Eropa selalu beranggapan seperti ini,
“Kalau takut, berarti kita tidakn pernah percaya kalau Allah itu ada. Aku yakin
banyak rencana indah yang sudah digariskan untukku. Jadi, kalau cobaannya juga
banyak kenapa harus mengeluh? Bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?”
Subhanallah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar