Kamis, 28 November 2013

RESENSI SCAPPA PER AMORE




Judul: Scappa per Amore

Penulis: Dini Fitria
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013, Cetakan II

Sinopsis:
Diva, seorang wartawan Indonesia yang melakukan perjalanannya ke Eropa, untuk meliput Islam di Eropa. Hakima adalah mualaf pertama yang ditemui oleh Diva. Kisah masa kelamnya yang membuat miris hati, membulatkan tekad Hakima untuk bunuh diri di Rel Kereta Nederlandse Spoorwayen, Belanda. Beruntunglah ada dua orang malaikat yang menolongnya dari hantaman kereta itu dan menolongnya dari kesesatan.
Alasan Diva memilih patuh kepada atasan untuk memilih mengambil liputan di Eropa, tidak lebih dari melupakan masa kelamnya bersama pria yang dahulu pernah menjadi belahan jiwanya. Alasan perjodohan karena ibu pria itu sakit keras adalah sebab dari pupusnya jalinan cinta mereka.
Banyak seorang mualaf yang Diva temui di berbagai negara di Eropa itu, menginspirasi Diva dalam memperlihatkan perjuangan mereka menegakkan agama Islam di Benua itu. Salah satu yang paling memginspirasi Diva adalah Arturo Cerculli, dengan nama Islamnya Muhammad Arturo Cerculli, Walikota Italia pertama yang beragama Islam. Sepak terjangnya di dunia politik telah membuat keberadaannya sebagai Muslim mencuat kepermukaan. Terpilihnya Aturo sebagai walikota pada tahun 2008, menjadi sorotan publik dan sempat menuai kontroversi. Namun, karena ketulusannya menjadi pemimpin dan kedekatannya dengan rakyat, membuat Arturo terpilih kembali sebagai Walikota Italia pada masa kepemimpinan 2013-2017.
Ada pula seorang gadis berumur 21 tahun yang memilih berpisah rumah dengan orangtua dan keluarganya, untuk membulatkan tekadnya menjadi seorang mualaf. Tinggal sendiri di apartemen kecil dengan fasilitas seadanya, dan bekerja di sebuah toko pusat perbelanjaan olahraga yang cukup besar dan lengkap, tetapi sayang, pimpinan di tempat kerjanya tidak mengizinkan dia memakai jilbab.
Tujuan Diva berikutnya adalah Barcelona, salah satu kota tujuan dunia. Namun, kabar buruk pun datang, ibunya sakit keras hingga dirawat di rumah sakit, semua saudara hingga ayahnya menghubungi Diva untuk cepat pulang. Apakah ibunya dapat kuat melawan penyakitnya? Apakah Diva dapat menemukan pengganti belahan jiwanya yang dahulu? Atau malah kembali dengannya? Apakah Diva akan melanjutkan perjalanannya membelah Benua Eropa? Entahlah, semua jawabannya ada di akhir cerita ini.

Kelebihan dan Kekurangan:
Penulis memakai bahasa yang apik dan mengalir, pembaca dapat mereka-reka kejadian yang penulis ungkapkan. Pembaca akan mengira penulis adalah tokoh Diva dalam cerita ini. Namun, pada bab tiga, alur yang digunakan penulis dalam menceritakan tokohnya sedikit membingungkan. Sebelumnya menjelaskan si “aku” adalah Diva, tetapi pada bab tiga, tiba-tiba si “aku” adalah Hakima, cukup membingungkan memang untuk mereka yang kurang konsentrasi membaca naskah ini. Lalu pada bab ini pula telah dijelaskan dua mualaf beserta sejarahnya, tetapi dengan alur yang berputar-putar, bisa saja membuat pembaca tertukar dengan masing-masing sejarahnya.
Desain yang digunakan sangat mengambil perhatian pembaca, lembut dan indah. Tata letak gambar pada cover dan pemilihan font terlihat  berkesinambungan, serta pengambilan warna lembut, seperti coklat muda, sebagai warna utama, lalu di goreskan warna-warna terang dengan menggambarkan gedung-gedung ciri negara-negara di Eropa, dan judul yang tertulis dengan warna coklat tua yang lembut. Sangat padan pembuatan cover ini, sehingga pembaca jatuh cinta melihat pertama kali.

Dengan membaca novel ini membuat saya bersyukur menjadi Muslim di Indonesia dengan kebebasannya beragama. Tidak seperti di Eropa dengan undang-undang yang melarang rakyatnya memakai tanda-tanda keagamaan. Para mualaf di Eropa selalu beranggapan seperti ini, “Kalau takut, berarti kita tidakn pernah percaya kalau Allah itu ada. Aku yakin banyak rencana indah yang sudah digariskan untukku. Jadi, kalau cobaannya juga banyak kenapa harus mengeluh? Bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?”

Subhanallah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar