Judul Buku: Presiden Guyonan
Jenis Naskah: Nonfiksi
Buku Presiden Guyonan ini lebih terlihat
seperti novel guyon sindiran ala Butet Kartaredjasa dengan peran utamanya,
Keluarga Celathu. Kata Celathu ini diambil dari pengertiannya, yaitu berujar,
atau menyahut atau nyeletuk, atau menyambar
omongan orang lain. Kehidupan sehari-hari keluarga Celathu selalu diisi
celetukan yang menyindir pemerintahan di negara ini. Bahasa sindiran yang
dipakai benar-benar apa adanya, mungkin kalau orang yang disindir itu membaca,
akan malu atau mungkin marah. Itulah Butet Kertaredjasa, seniman monolog yang
mudah saja membuat skenario dari kesalnya hati rakyat kepada pemerintah ini.
“Ada selebaran caleg Gorontalo yang demi memperoleh boncengan popularitas,
terpaksa pamer diri dengan teks begini: ‘Papanya Donna Agnesia’. Batin Mas
Celathu, kenapa nggak sekalian ditulis, ‘Mertuanya Darius Sinatria’? Siapa tahu
dengan membonceng popularitas nama selebriti beken itu, dia bisa segera
mengorbit dimangsa liputan infotaiment.
Kemudian ada pula selebaran yang begini tagline-nya:
‘Menantu Cucunya Jenderal Sudirman’. Wualah,
piye, sekadar menantu cucunya jenderal besar, kok, merasa seakan-akan ada
genetika yang terwariskan.” Kalimat-kalimat konyol seperti itu membuka mata
hati pembaca dan membuat pembaca senyum sinis melihat calon pemimpin yang mudah
mendapatkan bangku di pemerintahan, tapi mudah pula melupakan rakyatnya.
Dibuktikan dengan mencari boncengan agar selamat sampai pemilihan.
Tak sekedar
menyindir dengan kebanyolannya, penulis juga menuliskan nama yang disindirnya
itu, sehingga pembaca mulai terbuka lagi, seperti kasus renggangnya SBY dan
Jusuf Kalla, pada saat 6 bulan terakhir mereka menduduki kursi kekuasaan
sebelum bercerai. Lalu, kasus Megawati dan SBY yang tak pernah akur, satunya
pendiam, satunya penyindir.
Ilustrasinya
yang dibuat menyindir, juga terkesan lucu dengan kalimat dan gambarnya. Seperti
gambar tumpeng lumpur lapindo, di tengahnya terlihat bangunan yang masih utuh,
sedangkan lingkungan sekitarnya sudah tenggelam, sehingga lumpur tersebut tumpah
dan jatuh dari tumpeng tersebut.
Buku ini sangat
bagus dibaca bagi mereka yang sangat menyukai dunia politik. Penulis tidak
menyampaikan dengan kaku hingga membosankan, bagi yang menyukai keadaan politik
di Indonesia pasti selalu tersenyum sinis membaca sindiran demi sindiran yang
dibuat Mas Celathu, selaku tokoh utama dalam buku ini. Namun, bagi mereka yang tidak
suka membaca novel, membaca buku fiksi, lebih suka membaca buku nonfiksi, hanya
penasaran ingin mengetahui keadaan pemerintah menurut Butet Kertaredjasa, pastilah
tidak cocok membaca buku ini karena untuk mencapai klimaksnya, dalam naskah ini
diperlukan kalimat yang bertele-tele untuk masuk ke dalam lelucon atau sindiran
itu, seperti ingin membahas pemerintah korupsi yang berjuang demi perutnya
sendiri, harus membahas terlebih dahulu perutnya Mas Celathu yang kian hari
kian besar, harus membahas dahulu bahasa kiasan “jangan seenaknya perut” atau
“demi perjuangan perut”. Banyak bab-bab
yang bertele-tele.
Namun, dari
kekurangannya itu, buku ini pantas dibuatkan tayangan serial guyon sindir di
televisi, setiap episodenya
berkesinambungan dan tetap terdapat nilai komedi cerdas. Kamus mini bahasa Jawa
yang ditampilkan di belakang, menambahkan kelebihan pada buku ini. Pasti para
pembaca terhibur dan akan berfikir kembali dari cuek-nya hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar