Senin, 25 November 2013

RESENSI BUKU PRESIDEN GUYONAN


Nama Penulis: Butet Kertaredjasa
Judul Buku:     Presiden Guyonan
Jenis Naskah:  Nonfiksi


Buku Presiden Guyonan ini lebih terlihat seperti novel guyon sindiran ala Butet Kartaredjasa dengan peran utamanya, Keluarga Celathu. Kata Celathu ini diambil dari pengertiannya, yaitu berujar, atau menyahut atau nyeletuk, atau menyambar omongan orang lain. Kehidupan sehari-hari keluarga Celathu selalu diisi celetukan yang menyindir pemerintahan di negara ini. Bahasa sindiran yang dipakai benar-benar apa adanya, mungkin kalau orang yang disindir itu membaca, akan malu atau mungkin marah. Itulah Butet Kertaredjasa, seniman monolog yang mudah saja membuat skenario dari kesalnya hati rakyat kepada pemerintah ini. “Ada selebaran caleg Gorontalo yang demi memperoleh boncengan popularitas, terpaksa pamer diri dengan teks begini: ‘Papanya Donna Agnesia’. Batin Mas Celathu, kenapa nggak sekalian ditulis, ‘Mertuanya Darius Sinatria’? Siapa tahu dengan membonceng popularitas nama selebriti beken itu, dia bisa segera mengorbit dimangsa liputan infotaiment. Kemudian ada pula selebaran yang begini tagline-nya: ‘Menantu Cucunya Jenderal Sudirman’. Wualah, piye, sekadar menantu cucunya jenderal besar, kok, merasa seakan-akan ada genetika yang terwariskan.” Kalimat-kalimat konyol seperti itu membuka mata hati pembaca dan membuat pembaca senyum sinis melihat calon pemimpin yang mudah mendapatkan bangku di pemerintahan, tapi mudah pula melupakan rakyatnya. Dibuktikan dengan mencari boncengan agar selamat sampai pemilihan.
Tak sekedar menyindir dengan kebanyolannya, penulis juga menuliskan nama yang disindirnya itu, sehingga pembaca mulai terbuka lagi, seperti kasus renggangnya SBY dan Jusuf Kalla, pada saat 6 bulan terakhir mereka menduduki kursi kekuasaan sebelum bercerai. Lalu, kasus Megawati dan SBY yang tak pernah akur, satunya pendiam, satunya penyindir.
Ilustrasinya yang dibuat menyindir, juga terkesan lucu dengan kalimat dan gambarnya. Seperti gambar tumpeng lumpur lapindo, di tengahnya terlihat bangunan yang masih utuh, sedangkan lingkungan sekitarnya sudah tenggelam, sehingga lumpur tersebut tumpah dan jatuh dari tumpeng tersebut.
Buku ini sangat bagus dibaca bagi mereka yang sangat menyukai dunia politik. Penulis tidak menyampaikan dengan kaku hingga membosankan, bagi yang menyukai keadaan politik di Indonesia pasti selalu tersenyum sinis membaca sindiran demi sindiran yang dibuat Mas Celathu, selaku tokoh utama dalam buku ini. Namun, bagi mereka yang tidak suka membaca novel, membaca buku fiksi, lebih suka membaca buku nonfiksi, hanya penasaran ingin mengetahui keadaan pemerintah menurut Butet Kertaredjasa, pastilah tidak cocok membaca buku ini karena untuk mencapai klimaksnya, dalam naskah ini diperlukan kalimat yang bertele-tele untuk masuk ke dalam lelucon atau sindiran itu, seperti ingin membahas pemerintah korupsi yang berjuang demi perutnya sendiri, harus membahas terlebih dahulu perutnya Mas Celathu yang kian hari kian besar, harus membahas dahulu bahasa kiasan “jangan seenaknya perut” atau “demi perjuangan perut”.  Banyak bab-bab yang bertele-tele.



Namun, dari kekurangannya itu, buku ini pantas dibuatkan tayangan serial guyon sindir di televisi,  setiap episodenya berkesinambungan dan tetap terdapat nilai komedi cerdas. Kamus mini bahasa Jawa yang ditampilkan di belakang, menambahkan kelebihan pada buku ini. Pasti para pembaca terhibur dan akan berfikir kembali dari cuek-nya hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar