Senin, 25 November 2013

RESENSI BUKU INDONESIA JUNGKIRBALIK

Indonesia Jungkirbalik, Nonfiksi, Kumpulan 10 Penulis (Prie GS, Beby Haryati Dewi, Adhitya Mulya, Boim Lebanon, Bre Redana, Edhi Prayitno Ige, Iwok Abqary, Muhammad Yusran Darmawan, Ainun Chomsun, dan Fahd Djibran. 
    


Buku Indonesia Jungkirbalik ini sangat unik dari konsep buku yang dibuat, sesuai dengan judul bukunya (Jungkirbalik). Keunikan ini menarik penasaran pembaca, seunik apa sih isinya? Dengan menggabungkan 10 penulis andal dengan kritikan mereka terhadap negeri ini, membuat pembaca tersenyum sinis dan berfikir kembali atas kesalahan pemerintah, begitu pula kesalahan sendiri.
Dimulai dari Prie GS yang menuliskan tentang tiga macam watak masyarakat Indonesia mulai dari eksplotif, sensitif, dan sublimatif. Disambung karya Beby Haryati Dewi, seorang ibu yang miris melihat sistem pendidikan di Indonesia yang membuat anak tambah stress bukan tambah pintar. Lalu, Adhitya Mulya yang heran dengan title manusia Indonesia yang beragama, tetapi kenyataannya Indonesia peringkat ke 100 dalam pemberantas korupsi. Boim Lebanon juga mengingatkan kepada kita tentang aturan negara ini yang dibuat dengan banyak dana, tetapi akhirnya untuk dilanggar. Penulis terakhir dalam bagian pertama buku Indonesia Jungkirbalik ini adalah Bre Redana, rindu akan surga yang hilang, di mana-mana kriminal, pencurian, pemerkosaan, bahkan kejahatan yang dilakukan mengatasnamakan agama. Sunguh miris Indonesia.
Di bagian kedua buku ini, jungkirbalik pula cara peletakkannya, isinya suara hati dari lima penulis lainnya, seperti  Edhie Prayitno Ige, menceritakan pendidikan Indonesia yang tidak mendidik. Iwok Abqary, berbagi pengalamannya tentang pengemis Indonesia yang semakin miris, tidak terlihat penipuan atau kesungguhan. Muhammad Yusran Darmawan yang memutar kembali ingatan kita mengenai kekerasan di Indonesia yang sudah dilakukan sebelum merdeka sampai saat ini. Ainun Chomsun mengkritik politik Indonesia yang kacau. Sampai pada Fahd Djibran, penulis terakhir pada bagian buku ini yang menulis mengenai penyakit mental Indonesia dan tayangan televisi yang semakin hari semakin bohong.

Bahasa yang digunakan oleh sepuluh penulis ini sangat renyah, tidak baku, tidak juga terlewat gaul, porsinya sangat baik. Buku ini bagus untuk para remaja dan dewasa. Setiap quote dibedakan agar pembaca mudah meresapi inti dari naskah penulis. Desain tataletak yang jungkirbalik membuat pusing pembaca, tetapi ini ide yang bagus, beda dari yang lain. Judulnya dengan penulisan “Jungkirbalik” yang benar-benar dibolak-balikan juga sangat membuat pusing, sehingga pembaca malas membaca judulnya tetapi penasaran terhadap isinya. “Buku ini memerlukan fataw wajib baca bagi seluruh rakyat Indonesia.” Menurut Ratna Sarumpaet, Aktivis Perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar