Indonesia Jungkirbalik, Nonfiksi, Kumpulan 10 Penulis (Prie GS, Beby Haryati Dewi, Adhitya Mulya, Boim Lebanon, Bre Redana, Edhi Prayitno Ige, Iwok Abqary, Muhammad Yusran Darmawan, Ainun Chomsun, dan Fahd Djibran.
Buku Indonesia Jungkirbalik ini sangat unik
dari konsep buku yang dibuat, sesuai dengan judul bukunya (Jungkirbalik).
Keunikan ini menarik penasaran pembaca, seunik apa sih isinya? Dengan
menggabungkan 10 penulis andal dengan kritikan mereka terhadap negeri ini,
membuat pembaca tersenyum sinis dan berfikir kembali atas kesalahan pemerintah,
begitu pula kesalahan sendiri.
Dimulai dari
Prie GS yang menuliskan tentang tiga macam watak masyarakat Indonesia mulai
dari eksplotif, sensitif, dan sublimatif. Disambung karya Beby Haryati Dewi,
seorang ibu yang miris melihat sistem pendidikan di Indonesia yang membuat anak
tambah stress bukan tambah pintar. Lalu, Adhitya Mulya yang heran dengan title manusia Indonesia yang beragama,
tetapi kenyataannya Indonesia peringkat ke 100 dalam pemberantas korupsi. Boim
Lebanon juga mengingatkan kepada kita tentang aturan negara ini yang dibuat
dengan banyak dana, tetapi akhirnya untuk dilanggar. Penulis terakhir dalam
bagian pertama buku Indonesia
Jungkirbalik ini adalah Bre Redana, rindu akan surga yang hilang, di
mana-mana kriminal, pencurian, pemerkosaan, bahkan kejahatan yang dilakukan
mengatasnamakan agama. Sunguh miris Indonesia.
Di bagian kedua
buku ini, jungkirbalik pula cara peletakkannya, isinya suara hati dari lima
penulis lainnya, seperti Edhie Prayitno
Ige, menceritakan pendidikan Indonesia yang tidak mendidik. Iwok Abqary,
berbagi pengalamannya tentang pengemis Indonesia yang semakin miris, tidak
terlihat penipuan atau kesungguhan. Muhammad Yusran Darmawan yang memutar
kembali ingatan kita mengenai kekerasan di Indonesia yang sudah dilakukan
sebelum merdeka sampai saat ini. Ainun Chomsun mengkritik politik Indonesia
yang kacau. Sampai pada Fahd Djibran, penulis terakhir pada bagian buku ini
yang menulis mengenai penyakit mental Indonesia dan tayangan televisi yang
semakin hari semakin bohong.
Bahasa yang
digunakan oleh sepuluh penulis ini sangat renyah, tidak baku, tidak juga
terlewat gaul, porsinya sangat baik. Buku ini bagus untuk para remaja dan
dewasa. Setiap quote dibedakan agar
pembaca mudah meresapi inti dari naskah penulis. Desain tataletak yang
jungkirbalik membuat pusing pembaca, tetapi ini ide yang bagus, beda dari yang
lain. Judulnya dengan penulisan “Jungkirbalik” yang benar-benar dibolak-balikan
juga sangat membuat pusing, sehingga pembaca malas membaca judulnya tetapi
penasaran terhadap isinya. “Buku ini memerlukan fataw wajib baca bagi seluruh
rakyat Indonesia.” Menurut Ratna Sarumpaet, Aktivis Perempuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar