Jumat, 02 September 2016

BELAJAR DARI GUNUNG


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Apa kabar teman-teman pendaki?
Semoga sehat selalu dan selalu ingin merasakan keindahan alam yang Allah ciptakan aamiin. Seperti saya, jujur saya ketagihan mendaki, bukan karena puncak, tetapi karena ilmu yang terus saya dapatkan ketika mendaki. Oleh karena itu, saya akan menjabarkan beberapa pengetahuan yang bisa saya ambil dalam penerapan di kehidupan nyata.



Bukan bermaksud menggurui, karena saya lebih senang menjadi pendengar dan pengamat. Bukan bermaksud menasehati, karena saya lebih senang berbagi kisah dari pengalaman saya dan kerabat.

Belajar tak hanya ada di bangku sekolahan, begitu nasehat orang tua yang selalu dilontarkan. Begitulah pada hobi saya yang satu ini. Gunung mengajarkan banyak hal pada saya, tentang arti kesetiaan, pengorbanan, perjuangan, kepedulian, dan tata krama. Aneh memang, hanya sebuah gunung, tapi bisa mengajarkan keindahan pembentukan karakter pada setiap pendaki cerdas yang dapat memahami ilmu itu, sehingga dapat diterapkan pada kehidupan yang sebenarnya.

Artikel ini dimulai dari pelajaran mengenai tata krama saat di gunung, penting bagi para pendaki pemula. Ilmu tata krama ini lebih penting daripada cara mendaki atau cara packing yang benar. Mari, kita bahas satu per satu.

1. Spiritual
Naik gunung itu salah satu cara kita mendekatkan diri pada Tuhan, karena hanya pada-Nya kita bisa bergantung. Banyak makhluk lain yang tinggal di sana, bukan hanya manusia. Hal ini yang membuat pendaki pemula, biasanya berfikir dua kali untuk mendaki. Saya dapat kalimat menarik dari teman, “Percaya goib mah wajib, tapi jangan jadi paranoid” iya benar, apa yang perlu ditakutkan? Jin itu lemah sama manusia yang beriman. Makanya para pendaki harus punya isian. Apa yang dimaksud isian? Yaitu percaya sama Allah, zikir sepanjang jalan, punya etika buang air jangan sembarangan, dan etika berbicara. Ingat, makhluk goib selalu melihat apa yang kita lakukan, tapi juga harus diingat, Allah Yang Maha Melihat dan Maha Melindungi, mintalah perlindungan dari awal mendaki hingga turun mendaki.


2. Etika Bersyukur
Dengan cara apa manusia bersyukur? Dengan cara menjaga apa yang telah Allah berikan, dengan cara bersujud, dan dengan cara tersenyum. Kamu boleh mengagumi tumbuhannya tapi jangan kau petik, kamu boleh menggumi pesonanya tapi jangan kau biarkan sampah tergeletak di sekitarnya, kamu boleh mengagumi alam-Nya tapi jangan kau lupakan sujud dan solatmu. Tersenyumlah pada pesona alamnya, katakan selamat pagi pada tumbuhan hijau yang bermekaran, rasakanlah betapa Allah sangat menyayangi kamu, betapa Allah sangat menghargai hidupmu, betapa Allah sangat bahagia mendengar puji-pujianmu untuk-Nya. Bersyukurlah kamu, maka Allah akan menambahkan kenikmatan untukmu.


3. Etika mengeluh
Siapa sih yang tidak pernah mengeluh? Semua orang punya hak untuk mengeluh, tapi beda di gunung ya teman teman. Di gunung itu apapun bisa terjadi, percaya tak percaya aja deh, menurut pengalaman dari teman-teman saya, ketika mereka mengeluh, pernah ada yang bilang, “aduh dengkul gua sakit nih” eh ternyata beberapa saat kemudian, temen saya jatuh dan dengkulnya berdarah. Lalu ada yang bilang, “kayanya gua ga kuat deh” sepanjang jalan temen saya yang biasanya terlihat bersemangat, di pendakian saat itu terlihat lemas sekali dan bolak balik terjatuh. Ada lagi yang bilang, “kayanya gua salah packing deh, tas gua berat banget” sepanjang jalan, temen saya itu selalu berhenti membenarkan tasnya, padahal sudah di-packing beberapa kali. Ada lagi yang bilang, “perasaan jalan udah jauh, ini gunung masih tinggi aja ya” baru sampe pos 3 dia pusing, mual dan tidak kuat meneruskan perjalanan, dan masih banyak keluhan-keluhan lainnya. Ini pelajaran berharga untuk saya, bahwa kita boleh mengeluh, tetapi jangan diucapkan, cukup simpan di hati dan berfikir positif pada gunung, jangan lupa tetap zikir dan bergantung pada Allah. Insya Allah keluhan kita akan hilang.


4. Etika Bercanda
Sama seperti mengeluh, bercanda itu juga butuh etika. Ingat, kalian dipantau loh sama makhluk goib. Pendaki cerdas tidak pernah bercanda kelewat batas, berbicara kasar atau jorok karena mereka tahu ada yang tidak suka mendengarnya. Etika tertawa juga harus dipamahi di sini. Makhluk goib juga bisa merasa terganggu loh. Jangan sampai mereka ikut kita sampai rumah karena kelakuan kita di gunung yang tidak bisa dijaga.

5. Etika Buang Air
Tidak ada larangannya “pendaki dilarang buang air di sekitar gunung” tetapi larangannya adalah “pendaki dilarang buang air sembarangan” apa maksud dari sembarangan? Buang air di gunung harus punya etika, contoh buang air kecil, kalau kamu sudah tak kuat menahan, carilah spot yang bukan jalur pendakian, di semak-semak misalnya, tapi ingat, jangan di batu atau di pohon karena kita harus menghargai, itu adalah tempat tinggal makhluk lain. Dianjurkan buang air kecil langsung ke tanah, tapi alaskan tisu atau daun kering sekitar, sesudahnya disiram dengan air, karena makhluk halus juga tak suka mencium aroma pesing. Lalu bersihkan area sensitifmu dengan tisu basah dan kering. Buang air besar sama etikanya, hanya saja buat lubang galian untuk kotorannya terlebih dahulu, setelah selesai, dikubur kembali.

Oiya untuk laki-laki, buang air kecilnya jongkok ya jangan berdiri, nanti nyiprat kemana-mana he he. Bekas tisu untuk membersihkannya jangan lupa dibawa ya, jangan buang sampah sembarangan. Begitu juga bagi para wanita yang sedang datang bulan, pembalut kalian disimpan yang rapi dan dimasukkan ke plastik ya, para jin sangat menyukai aroma itu, jadi pintar-pintar kalian menyiasatinya. Sekali lagi saya ingatkan, jangan ada yang ditinggal dan jangan buang sampah sembarangan :)

Kesimpulannya, gunung mengajarkan kita untuk beretika, tak hanya dalam pendakian, tapi juga di dalam lingkungan kita, bercanda harus ada batasnya agar tidak merugikan perasaan orang lain, jangan sampai kata “baper” menjadi alasan seseorang untuk menyakiti. Begitu juga dengan mengeluh, gunung mengajarkan, “mengeluh itu hak setiap orang, tapi hanya orang cerdas yang dapat merubah keluhan menjadi semangat”. Seberat apapun masalah yang kita punya, masih ada Allah Yang Mampu Meringankan. Kita diperintahkan untuk menikmati dan menjaga alam-Nya. Bersyukurlah, beribadahlah, dan kagumilah.

Sekian artikel pertama ini, semoga bermanfaat untuk kalian. Masih banyak informasi yang ingin saya jabarkan he he, Insya Allah artikel selanjutnya saya akan membahas mengenai sifat asli para pendaki. Tahan dulu penasarannya, lebih baik mendaki dan terapkan dulu ilmu di atas :) _SN_

Penulis : Sofura Nida
                 Syaiful Ramdhani
x

Jumat, 27 Desember 2013

RESENSI DAN SURGA PUN TERSENYUM

RESENSI
DAN SURGA PUN TERSENYUM

Judul Buku: Dan Surga pun Tersenyum
Penulis: Satria Nova, dkk
Tahun Terbit: 2013, Cetakan I
Penerbit: Noura Books
Kategori Buku:Nonfiksi

Kumpulan kisah para diabel yang berjuang demi mempertahankan kebahagiaan hidupnya. Kisah inspirasi mereka yang memberikan pelajaran dan empati masyarakat akan ketangguhan mereka. Seperti kisah Paini, , sosok perempuan cacat pekerja keras dan dermawan. Sejak memasuki sekolah dasar, Paini sudah mendapat ejekan menyakitkan dari teman-temannya. Setelah tamat SMP, Paini merantau ke Jakarta dan melamar ke beberapa perusahaan, semua perusahaan menolak dengan dua alasan utamanya, yaitu karena Paini cacat dan karena Paini memakai jilbab. Pada perusahaan konveksi pun, begitu pula tanggapannya, tetapi Paini memaksa, dia berani tidak digaji dalam tiga hari pertama untuk menunjukkan kemampuannya menjahit. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Paini dipercaya oleh perusahaan bekerja di tempat itu. Karirnya kini, tak hanya sebagai pekerja keras di perusahaan konveksi, dia membuka usaha kripik, di rumahnya sendiri dan dibantu oleh para difabel anak didiknya. Hatinya yang dermawan mampu menampung para diabel di rumahnya dan membantu masyarakat sekitarnya.
Kisah derita dalam buku ini, tidak hanya mencakup difabel, ada pula kisah masyarakat yang tulus menjalani deritanya. Kisah kakek loper koran, kisah kakek penjual mainan keong, kisah Mak Sumi yang masih bekerja di usia senja, kisah Haji Nazar yang masih belajar di usia tuanya, kisah pengabdian tanpa pamrih, seperti Wak Dullah, si pelayan masjid, dan masih banyak kisah menyentuh hati lainnya.
Penulis membawakan cerita dengan santainya, seperti seorang wartawan yang telah mewawancarai narasumber dan dikelolanya setiap kalimat dalam bentuk cerita, bahasanya mudah dimengerti, pembaca akan merasa empati setiap membaca lembar demi lembar kisah mereka. Sayangnya, tidak ada dokumentasi dalam setiap akhir cerita, hanya ada di satu cerita saja. Dokumentasi tersebut bermaksud agar pembaca lebih merasakan perjuangan narasumber sendiri. Buku ini sangat memberikan pelajaran bagi kita semua yang normal bahwa masih banyak kehidupan yang lebih berat dari masalah-masalah yang kita keluhkan selama ini.

RESENSI ASHABUL KAHFI MELEK 3 ABAD

RESENSI
ASHABUL KAHFI MELEK 3 ABAD


Judul Buku: Ashabul Kahfi Melek 3 Abad
Penulis:  Dr. H Nadirsyah Hosen, Ph. D (Pengajar University of Wollongong,  Australia) dan dr. Nurussyariah Hammado, M.NeuroSci (Pakar  Neurosains, Pengajar  UN Makasar)
Tahun Terbit: 2013, Cetakan I
Penerbit: Noura Books
Kategori: Nonfiksi

Peristiwa tidur panjang pemuda beserta seekor anjing yang bersembunyi di dalam gua merupakan mukjizat sekaligus enomena ilmiah yang menakjubkan. Kisah ini dimulai ketika mereka lari menyelamatkan diri ke dalam gua dari kejaran pasukan tentara yang ingin membunuh mereka disebabkan keteguhan hati mereka yang tidak mau menyeru Tuhan selalin Tuhan langit dan bumi (Qs. Al-Kahfi [18]: 14-16). Di dalam gua itu, mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami." Allah menunjukkan kebesarannya dengan "menidurkan" mereka selama 309 tahun. Hal yang memesona adalah bagaimana Allah Swt. memperlihatkankan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui proses ilmiah "tidur" hingga "bangun" yang begitu gamblang dideskripsikan dalam Qs. Al-Kahfi [18]: 19-20, termasuk pengaturan lingkungan sekitar yang memungkinkan agar mereka itu tetap tertidur, bukan koma atau mati, selama tiga abad.
Kolaborasi zikir dan pikir yang diusung oleh kedua penulis ini adalah identitas muslim dalam menjawab persoalan lahir-batin di dunia modern dan penuh kesibukan ini. Kisah Ashabul Kahfi yang tidak dapat dijelaskan menggunakan nalar, penulis kupas dengan menggunakan perpaduanAl-Quran dan ilmu sains. Bagaimana ketujuh pemuda itu hidup? Bagaimana ketujuh pemuda itu makan? Apa yang terjadi setelah mereka terbangun? Bagaimana dengan anjing mereka? Bagaimana suhu dalam gua tersebut?Semua pertanyaan yang tidak dapat dipecahkan melalui nalar, penulis coba jabarkan menggunakan ayat Al-Quran dan ilmu sains.
Tidak hanya kisah Ashabul Kahfi yang sangat menakjubkan. buku ini juga mengisahkan binatang yang diungkap dalam Al-Quran, agar manusia dapat belajar dari kisah tersebut. kemudian, pembaca akan turut dibawa serta menghadiri drama pengajian ala Ujang dan Haji Yunus, mengenai Bid'ah serta perbedaan pendapat ulama, perbedaan cara beribadah dan perbedaan waktu lebaran. Penulis juga mengurai kembali khazanah keilmuan cendikiawan muslim klasik yang sangat luar biasa dan ternyata banyak muslim yang tidak mengenal sejarahnya. Ada pula penjelasan singkat mengenai hati setiap manusia, mengenai ego, mengenai amarah, penyakit hati, dan masih banyak lagi yang penulis tuang dalam buku ini.
Buku ini sangat bagus dibaca oleh muslim dan muslimah, bahasa yang digunakannya pun tidak bertele-tele, tentu dengan bahasa yang sangat ringan, sehingga pembaca mudah menangkap pesan yang disampaikan. "Berbobot dan tepat sasaran". menurut H. Yuslam auzi, M.B.A., selaku Direktur Utama Bank Syariah Mandiri. Buku ini wajib sebagai panduan umat muslim dalam menyerap ilmu-ilmu kehidupan dan pembelajaran dari kisah-kisah yang dituangkan dalam buku ini. setelah membaca buku ini, umat muslim dipastikan akan penasaran membaca terjemahan Al-Quran yang selama ini lalai untuk dipelajari. semoga buku ini bermanaat bagi masyarakat yang cinta pada Allah Swt., agama-Nya, makhluk-Nyam serta alam-Nya.

Rabu, 04 Desember 2013

Resensi Indonesia X Files


Judul Buku:         Indonesia X File
Penulis buku:     dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F
Tebal Buku:        334 Halaman
Penerbit:             Nourabooks
Tahun Terbit:     2013, Cetakan I
dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F membongkar fakta-fakta baru mengenai kejanggalan-kejanggalan kematian dari kasus-kasus kontroversi, seperti kasus kerusuhan Trisakti 1988 yang mengakibatkan empat orang mahasiswa tewas karena tembakan, terungkapnya misteri kematian Sang Proklamator, kasus kematian Nazaruddin dan ditahannya Antasari dan skenario kematian munir yang tidak tanggung-tanggung dr. Mun’im  membeberken nama-nama asli pelaku dan tidak memakai inisial.
Ada pula yang mengejutkan, kasus Marsinah, seorang aktivis buruh PT Catur Putra Surya, banyak kejanggalan aneh dalam hasil visumnya (visum et repertum). Ada dua hasil visum dari RSUD Nganjuk dan RSUD dr. Soetomo. Namun, hasil keduanya berbeda. Hasil dari RSUD Nganjuk sangat sederhana karena hanya satu halaman. Meskipun sudah dilakukan bedah mayat, tetapi tidak ditemukan laporan perihal keadaan kepala, leher, dan dada korban. Kesimpulan hasil visum yang dibuat, yaitu: korban meninggal dunia akibat pendarahan dalam rongga perut. Padahal data VR (visum et repertum) dari RSUD dr. Soetomo  disebutkan tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping, tulang kemaluan kanan patah, tulang usus kanan tengah patah sampai terpisah dan kelangkang kanan patah seluruhnya. Itu baru satu kasus yang diungkapkan dr. Mun’im dalam buku ini. Masih banyak kasus kematian kontroversial yang terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam kematian.
dr. Mun’im adalah dokter ahli forensik yang berteman dengan kebenaran. Dia tidak takut pada kematian walau pada zaman itu sedang kuat-kuatnya tentara, sangat tegang dan ketat pada peraturan serta pembunuhan. dr. Mun’im membantu para keluarga korban yang merasa kematian sanak saudaranya adalah suatu kejanggalan.
Buku ini dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat awam yang hanya doyan komentar saja tentang aparat yang tidak dapat membongkar kasus. Masyarakat hanya menyalahkan, menyudutkan aparat tidak setengah hati bekerja, tidak mempunyai kemampuan, lamban bekerja, atau komentar lainnya. Padahal dr. Mun’im mengatakan, dalam hal membongkar kasus itu sangat sulit, harus ada beberapa tahap. Buku ini juga bagus untuk dijadikan pedoman atau buku pelajaran bagi mahasiswa kedokteran, hukum, atau yang ingin menjadi ahli forensik. Tak hanya kasus kontroversial, tetapi informasi mengenai pembedahan mayat yang dapat mengungkapkan kebenaran, mengungkapkan proses kematian seseorang lewat hasil visum, menyimpulkan kapan seseorang dinyatakan sudah meninggal, terungkapnya kebenaran mengenai malpraktik, pembunuhan atau bunuh diri, mati ditembak atau ledakan, dan masih banyak lagi kasus dan informasi yang diungkapkan dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F dalam buku ini.
Cover buku ini sangat menarik, pemilihan font, warna, gambar, desain, dan tata letaknya sangat cocok. Akan lebih bagus lagi, apabila penulis menambahkan dokumentasi di setiap kasus yang dia tangani. Namun, akhir penyelesaian di setiap kasus tidak tuntas. dr. Mun’im hanya memaparkan proses kejanggalan saja, sehingga tidak sampai akhir kasus pada hukum. Masyarakat semakin gemes dengan kelakuan ‘aparat’ nakal yang jahat menyembunyikan kebenaran, padahal tugas mereka menyampaikan kebenaran.

Kalau dr. Mun’im bekerjasama dengan detektif yang memecahkan kasus dalam buku ini, pasti akan lebih seru dibacanya. Kalian wajib baca buku ini, pasti kalian akan terkejut dan tidak menyangka apa yang diungkapkan dr. Mun’im. Kalau KPK menerbitkan buku sejenis seperti Indonesia X File ini, pasti ga akan ada lagi koruptor yang tenang dan santai hidupnya. Membaca buku ini harus siap mental, harus siap pedih merasakan korban-korban yang dimanfaatkan oleh aparat terkait, tetapi saya tetap katakana, Kalian Wajib Baca!

Kamis, 28 November 2013

RESENSI MUM'S LIST



Judul Asli:       “Mums List”

Penulis:            St. John Greene & Rachel Murphy
Penerjemah:     Pandu Wicaksono
Penerbit:          Noura Books
Tahun Terbit: 
 Cetakan I, 2013

Sinopsis :
Kematian Kate, yang sudah menemani hidup Singe lebih dari dua puluh tahun, ternyata tidak menyebabkan kehancuran penuh bagi kehidupan Singe dan anak-anak mereka, Reef dan Finn. Ini dikarenakan Kate membekali Singe ‘daftar Ibu’ yang berisikan hal-hal apa yang bisa mereka lakukan setelah kepergian Kate. Daftar yang dibuat Kate setelah Kanker Payudara yang diidapnya tidak lagi memiliki harapan untuk sembuh itu, memang  secara tak sadar diminta sendiri oleh Singe yang ketika  itu memeluk Kate dan bertanya, “Apa yang terjadi kalau kau meninggalkan aku?”
Kate menulis daftar itu di buku hariannya ketika dia masih tidur di rumah, dia juga meninggalkan instruksi-instruksi di kertas yang tersebar dimana-mana. Ketika terlalu lemah untuk menulis, dia mengirim SMS agar Singe menambahkannya dalam daftar yang diharapkan akan membantu Singe membangun masa depan bagi anak-anak mereka.
Berikan anak-anak dua ciuman setelah aku pergi”  itu adalah daftar pertama yang harus Singe lakukan setiap mengantar anak-anak pergi tidur. Satu ciuman dari ayah, dan satu untuk mewakili ciuman ibu.
Kate adalah seorang ibu yang setia, bijaksana, dan baik hati yang selalu berusaha membuat anak-anak tersenyum dan merasakan kasih sayangnya.
Reef, anak pertama pasangan mereka telah divonis kanker di tulang panggul pada usianya yang kedelapan belas bulan. Sungguh pukulan yang harus mereka tanggung disaat Kate sedang hamil anak kedua, Finn, yang secara terpaksa harus lahir prematur dan berada di inkubator perawatan khusus.
Kesabaran dan Cinta kasih Kate berhasil menyelamatkan kedua anaknya dari kegilaan rumah sakit dengan berbagai tindakan perawatannya. Suatu keajaiban bagi mereka.
Singe dapat merasakan keberanian Kate saat menuliskan salah satu daftar, “Carilah wanita sebagai pasanganmu, agar anak-anak mendapatkan sosok wanita dan stabilitas dalam hidup mereka”
Bagaimana Singe dapat hidup tanpa Kate, itu yang dirasakan Singe. Tapi itu bukanlah harapan Kate. Kate hanya ingin kebahagian hidup Singe dan anak-anaknya walaupun Kate telah pergi.
Daftar ibu yang menjadi panduan bagi mereka untuk melakukan banyak hal  sangat membantu mereka mengatasi kesedihan, menumbuhkan kekuatan untuk bertahan di  tengah duka  dan membangun masa depan. Itu pula yang mendorong Singe untuk membuat Daftar ayah untuk melengkapi perjalanan hidup dan kebahagian anak-anaknya.

Kelebihan dan Kekurangan
Mungkin sebelumnya tidak pernah ada orang yang menuliskan daftar sebelum kematiannya untuk ‘dihadiahkan’ kepada pasangannya untuk menjalani hidup ke depan setelah kepergiannya, novel ini memberikan motivasi betapa berharganya daftar ini, bukan untuk membuat seseorang menjadi larut dalam kesedihan dan terikat oleh masa lalunya, tetapi untuk mengisi masa depan yang lebih fantastis. Bahasa yang digunakan baik walaupun ada beberapa bahasa terjemahan dalam suatu paragraf yang tidak dimengerti maksud ceritanya. Novel ini diterjemahkan apa adanya tanpa diatur kembali tata bahasanya, sehingga kadang ditemukan antara paragraph satu dan lainnya ‘putus’ tidak berkaitan. Selain itu tidak adanya penjelasan untuk kata-kata asing yang memang sengaja dimunculkan agar tidak mengurangi makna. Namun itu semua tidak mengurangi keasikan untuk tetap larut dalam alur ceritanya dan kita tetap dapat menangkap amanat yang ada dalam buku ini.


Membaca novel ini membuat kita ikut terbawa dalam perjalanan cinta Singe dan Kate. Diharapkan novel ini dapat menjadi panduan bagi setiap rumah tangga karena didalamnya lengkap diceritakan bagaimana Kate sebagai seorang istri yang selalu berusaha menjadi yang terbaik bagi suaminya, sebaliknya bagaimana Singe yang selalu menghargai  dan pandai membahagiakan istrinya. Disamping itu yang lebih mendalam bagaimana mereka berdua saling menguatkan dalam membesarkan, memelihara, mendidik dan memberikan kebahagiaan bagi anak-anaknya.

RESENSI SCAPPA PER AMORE




Judul: Scappa per Amore

Penulis: Dini Fitria
Penerbit: Nourabooks
Tahun: 2013, Cetakan II

Sinopsis:
Diva, seorang wartawan Indonesia yang melakukan perjalanannya ke Eropa, untuk meliput Islam di Eropa. Hakima adalah mualaf pertama yang ditemui oleh Diva. Kisah masa kelamnya yang membuat miris hati, membulatkan tekad Hakima untuk bunuh diri di Rel Kereta Nederlandse Spoorwayen, Belanda. Beruntunglah ada dua orang malaikat yang menolongnya dari hantaman kereta itu dan menolongnya dari kesesatan.
Alasan Diva memilih patuh kepada atasan untuk memilih mengambil liputan di Eropa, tidak lebih dari melupakan masa kelamnya bersama pria yang dahulu pernah menjadi belahan jiwanya. Alasan perjodohan karena ibu pria itu sakit keras adalah sebab dari pupusnya jalinan cinta mereka.
Banyak seorang mualaf yang Diva temui di berbagai negara di Eropa itu, menginspirasi Diva dalam memperlihatkan perjuangan mereka menegakkan agama Islam di Benua itu. Salah satu yang paling memginspirasi Diva adalah Arturo Cerculli, dengan nama Islamnya Muhammad Arturo Cerculli, Walikota Italia pertama yang beragama Islam. Sepak terjangnya di dunia politik telah membuat keberadaannya sebagai Muslim mencuat kepermukaan. Terpilihnya Aturo sebagai walikota pada tahun 2008, menjadi sorotan publik dan sempat menuai kontroversi. Namun, karena ketulusannya menjadi pemimpin dan kedekatannya dengan rakyat, membuat Arturo terpilih kembali sebagai Walikota Italia pada masa kepemimpinan 2013-2017.
Ada pula seorang gadis berumur 21 tahun yang memilih berpisah rumah dengan orangtua dan keluarganya, untuk membulatkan tekadnya menjadi seorang mualaf. Tinggal sendiri di apartemen kecil dengan fasilitas seadanya, dan bekerja di sebuah toko pusat perbelanjaan olahraga yang cukup besar dan lengkap, tetapi sayang, pimpinan di tempat kerjanya tidak mengizinkan dia memakai jilbab.
Tujuan Diva berikutnya adalah Barcelona, salah satu kota tujuan dunia. Namun, kabar buruk pun datang, ibunya sakit keras hingga dirawat di rumah sakit, semua saudara hingga ayahnya menghubungi Diva untuk cepat pulang. Apakah ibunya dapat kuat melawan penyakitnya? Apakah Diva dapat menemukan pengganti belahan jiwanya yang dahulu? Atau malah kembali dengannya? Apakah Diva akan melanjutkan perjalanannya membelah Benua Eropa? Entahlah, semua jawabannya ada di akhir cerita ini.

Kelebihan dan Kekurangan:
Penulis memakai bahasa yang apik dan mengalir, pembaca dapat mereka-reka kejadian yang penulis ungkapkan. Pembaca akan mengira penulis adalah tokoh Diva dalam cerita ini. Namun, pada bab tiga, alur yang digunakan penulis dalam menceritakan tokohnya sedikit membingungkan. Sebelumnya menjelaskan si “aku” adalah Diva, tetapi pada bab tiga, tiba-tiba si “aku” adalah Hakima, cukup membingungkan memang untuk mereka yang kurang konsentrasi membaca naskah ini. Lalu pada bab ini pula telah dijelaskan dua mualaf beserta sejarahnya, tetapi dengan alur yang berputar-putar, bisa saja membuat pembaca tertukar dengan masing-masing sejarahnya.
Desain yang digunakan sangat mengambil perhatian pembaca, lembut dan indah. Tata letak gambar pada cover dan pemilihan font terlihat  berkesinambungan, serta pengambilan warna lembut, seperti coklat muda, sebagai warna utama, lalu di goreskan warna-warna terang dengan menggambarkan gedung-gedung ciri negara-negara di Eropa, dan judul yang tertulis dengan warna coklat tua yang lembut. Sangat padan pembuatan cover ini, sehingga pembaca jatuh cinta melihat pertama kali.

Dengan membaca novel ini membuat saya bersyukur menjadi Muslim di Indonesia dengan kebebasannya beragama. Tidak seperti di Eropa dengan undang-undang yang melarang rakyatnya memakai tanda-tanda keagamaan. Para mualaf di Eropa selalu beranggapan seperti ini, “Kalau takut, berarti kita tidakn pernah percaya kalau Allah itu ada. Aku yakin banyak rencana indah yang sudah digariskan untukku. Jadi, kalau cobaannya juga banyak kenapa harus mengeluh? Bukankah dibalik kesulitan ada kemudahan?”

Subhanallah

RESENSI TRAVEL WRITER DIARIES

Judul: Travel Writer Diaries
Penulis: Teguh Sudarisman
Penerbit: NouraBooks
Tahun: 2013, Cetakan I

Perjalanan seorang redaktur majalah JalanJalan dan majalah Garuda (2007-2009) ke tempat-tempat ekowisata yang tidak biasa. Perjalanan pertama dalam buku ini, Teguh Sudarisman yang dikenal dengan sebutan Travel Writer Senior,  menjejakkan kakinya di Sumatera Utara, lebih tepatnya di Tangkahan, Kabupaten Langkat. Di sana, Teguh beserta teman perjalanannya Hendra ikut berpatroli hutan menaiki gajah. Di perjalanannya yang kedua, Teguh menemukan makam cantik di tepi Danau Toba. Lalu, Teguh ke Bakkara, mengunjungi makam Singsingamangaraja. Dalam perjalanan, Teguh melihat tanaman Kopi dan padi tumbuh beririnngan, tak seperti biasanya.
Perjalanan ke Gunung Krakatau, atau lebih tepatnya Anak Gunung Krakatau di Selat Sunda, Lampung Selatan. Menanjak gunung api dengan tinggi 287m di atas laut yang masih aktif ini merupakan pengalaman yang sangat menakjubkan. Pijakan pasir yang cukup dalam dan hangat menghambat perjalanan, apabila terpeleset akan jatuh ke jurang di sebelah kiri. Sesampainya di atas banyak asap yang keluar dari bebatuan besar.
Perjalanan ke Pulau Seribu, singgah di beberapa pulau seperti Pulau Semak Daun, Pulau Kelor Barat, Pulau Kelor Timur yang bersebelahan dengan Pulau Kelor Barat, Pulau Gososng, Pulau Tongkek, Pulau Kelapa, pulau yang berpenduduk sekitar lima belas ribu orang, Pulau Panjang, Pulau Panjang Kecil, Pulau Bulat, Pulau Pemagaran dengan dermaga pulau yang berbentuk seperti laguna dengan air berwarna emerald, Pulau Kotok Kecil, dan Pulau Kotok Besar, sebagai tempat pelepasan Elang Bondol yang sebelumnya diperoleh dari penyitaan perdagangan satwa illegal. Serta Pulau Air yang sebagian besar pulainya berisi air, karena daratannya seperti dibelah-belah oleh kanal-kanal yang tampaknya sengaja dibuat.
Bahasa yang digunakan sangat indah dan mengalir, penulis seakan-akan sedang bercerita kepada temannya mengenai keindahan menjelajahi Indonesia. Bahasa persuasif  yang membuat iri pembaca yang ingin mengikuti perjalanan penulis selanjutnya. Tempat-tempat yang tidak biasa, menambah daftar keunikan buku ini selanjutnya. Di setiap akhir bab, penulis memberikan informasi cara mengunjungi tempat wisata itu, begitu pula dengan contact person wisata. Namun, desain warna biru yang bercampur dengan warna hitam membuat pembaca pusing melihat tulisannya. Saya suka dengan semua pengambilan gambarnya, ini termasuk foto jurnalistik tetapi tetap mengindahkan angle pengambilannya. Semua foto-fotonya berbicara, sehingga pembaca tambah ingin mengikuti trip-trip penulis selanjutnya.

 Banyak lagi perjalanan indah Teguh dalam tripnya. Berkunjung ke pabrik Gong di Bogor, Kawah Ratu di Gunung Salak, Taman Eden di Cibodas, Green Canyon,  Mengintip cara pembuatan batik unik di Little Nederland, Wisata ke Bromo, dan masih banyak lagi perjalanan seru Teguh ke tempat-tempat tidak biasa lainnya. Buku ini khusus untuk Anda yang berjiwa petualang, khusus untuk Anda yang cinta Indonesia, sesaat melupakan kondisi ekonomi dan politik Indonesia kalau sudah membaca buku ini. Rasanya langsung  ingin mengajak sahabat dan keluarga menyusuri perjalanan Teguh dalam buku ini. Harga yang ditarifkan Teguh dalam perjalanannya pun tidak mahal. Cocoklah buat para Backpacker sejati.