Jumat, 02 September 2016

BELAJAR DARI GUNUNG


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Apa kabar teman-teman pendaki?
Semoga sehat selalu dan selalu ingin merasakan keindahan alam yang Allah ciptakan aamiin. Seperti saya, jujur saya ketagihan mendaki, bukan karena puncak, tetapi karena ilmu yang terus saya dapatkan ketika mendaki. Oleh karena itu, saya akan menjabarkan beberapa pengetahuan yang bisa saya ambil dalam penerapan di kehidupan nyata.



Bukan bermaksud menggurui, karena saya lebih senang menjadi pendengar dan pengamat. Bukan bermaksud menasehati, karena saya lebih senang berbagi kisah dari pengalaman saya dan kerabat.

Belajar tak hanya ada di bangku sekolahan, begitu nasehat orang tua yang selalu dilontarkan. Begitulah pada hobi saya yang satu ini. Gunung mengajarkan banyak hal pada saya, tentang arti kesetiaan, pengorbanan, perjuangan, kepedulian, dan tata krama. Aneh memang, hanya sebuah gunung, tapi bisa mengajarkan keindahan pembentukan karakter pada setiap pendaki cerdas yang dapat memahami ilmu itu, sehingga dapat diterapkan pada kehidupan yang sebenarnya.

Artikel ini dimulai dari pelajaran mengenai tata krama saat di gunung, penting bagi para pendaki pemula. Ilmu tata krama ini lebih penting daripada cara mendaki atau cara packing yang benar. Mari, kita bahas satu per satu.

1. Spiritual
Naik gunung itu salah satu cara kita mendekatkan diri pada Tuhan, karena hanya pada-Nya kita bisa bergantung. Banyak makhluk lain yang tinggal di sana, bukan hanya manusia. Hal ini yang membuat pendaki pemula, biasanya berfikir dua kali untuk mendaki. Saya dapat kalimat menarik dari teman, “Percaya goib mah wajib, tapi jangan jadi paranoid” iya benar, apa yang perlu ditakutkan? Jin itu lemah sama manusia yang beriman. Makanya para pendaki harus punya isian. Apa yang dimaksud isian? Yaitu percaya sama Allah, zikir sepanjang jalan, punya etika buang air jangan sembarangan, dan etika berbicara. Ingat, makhluk goib selalu melihat apa yang kita lakukan, tapi juga harus diingat, Allah Yang Maha Melihat dan Maha Melindungi, mintalah perlindungan dari awal mendaki hingga turun mendaki.


2. Etika Bersyukur
Dengan cara apa manusia bersyukur? Dengan cara menjaga apa yang telah Allah berikan, dengan cara bersujud, dan dengan cara tersenyum. Kamu boleh mengagumi tumbuhannya tapi jangan kau petik, kamu boleh menggumi pesonanya tapi jangan kau biarkan sampah tergeletak di sekitarnya, kamu boleh mengagumi alam-Nya tapi jangan kau lupakan sujud dan solatmu. Tersenyumlah pada pesona alamnya, katakan selamat pagi pada tumbuhan hijau yang bermekaran, rasakanlah betapa Allah sangat menyayangi kamu, betapa Allah sangat menghargai hidupmu, betapa Allah sangat bahagia mendengar puji-pujianmu untuk-Nya. Bersyukurlah kamu, maka Allah akan menambahkan kenikmatan untukmu.


3. Etika mengeluh
Siapa sih yang tidak pernah mengeluh? Semua orang punya hak untuk mengeluh, tapi beda di gunung ya teman teman. Di gunung itu apapun bisa terjadi, percaya tak percaya aja deh, menurut pengalaman dari teman-teman saya, ketika mereka mengeluh, pernah ada yang bilang, “aduh dengkul gua sakit nih” eh ternyata beberapa saat kemudian, temen saya jatuh dan dengkulnya berdarah. Lalu ada yang bilang, “kayanya gua ga kuat deh” sepanjang jalan temen saya yang biasanya terlihat bersemangat, di pendakian saat itu terlihat lemas sekali dan bolak balik terjatuh. Ada lagi yang bilang, “kayanya gua salah packing deh, tas gua berat banget” sepanjang jalan, temen saya itu selalu berhenti membenarkan tasnya, padahal sudah di-packing beberapa kali. Ada lagi yang bilang, “perasaan jalan udah jauh, ini gunung masih tinggi aja ya” baru sampe pos 3 dia pusing, mual dan tidak kuat meneruskan perjalanan, dan masih banyak keluhan-keluhan lainnya. Ini pelajaran berharga untuk saya, bahwa kita boleh mengeluh, tetapi jangan diucapkan, cukup simpan di hati dan berfikir positif pada gunung, jangan lupa tetap zikir dan bergantung pada Allah. Insya Allah keluhan kita akan hilang.


4. Etika Bercanda
Sama seperti mengeluh, bercanda itu juga butuh etika. Ingat, kalian dipantau loh sama makhluk goib. Pendaki cerdas tidak pernah bercanda kelewat batas, berbicara kasar atau jorok karena mereka tahu ada yang tidak suka mendengarnya. Etika tertawa juga harus dipamahi di sini. Makhluk goib juga bisa merasa terganggu loh. Jangan sampai mereka ikut kita sampai rumah karena kelakuan kita di gunung yang tidak bisa dijaga.

5. Etika Buang Air
Tidak ada larangannya “pendaki dilarang buang air di sekitar gunung” tetapi larangannya adalah “pendaki dilarang buang air sembarangan” apa maksud dari sembarangan? Buang air di gunung harus punya etika, contoh buang air kecil, kalau kamu sudah tak kuat menahan, carilah spot yang bukan jalur pendakian, di semak-semak misalnya, tapi ingat, jangan di batu atau di pohon karena kita harus menghargai, itu adalah tempat tinggal makhluk lain. Dianjurkan buang air kecil langsung ke tanah, tapi alaskan tisu atau daun kering sekitar, sesudahnya disiram dengan air, karena makhluk halus juga tak suka mencium aroma pesing. Lalu bersihkan area sensitifmu dengan tisu basah dan kering. Buang air besar sama etikanya, hanya saja buat lubang galian untuk kotorannya terlebih dahulu, setelah selesai, dikubur kembali.

Oiya untuk laki-laki, buang air kecilnya jongkok ya jangan berdiri, nanti nyiprat kemana-mana he he. Bekas tisu untuk membersihkannya jangan lupa dibawa ya, jangan buang sampah sembarangan. Begitu juga bagi para wanita yang sedang datang bulan, pembalut kalian disimpan yang rapi dan dimasukkan ke plastik ya, para jin sangat menyukai aroma itu, jadi pintar-pintar kalian menyiasatinya. Sekali lagi saya ingatkan, jangan ada yang ditinggal dan jangan buang sampah sembarangan :)

Kesimpulannya, gunung mengajarkan kita untuk beretika, tak hanya dalam pendakian, tapi juga di dalam lingkungan kita, bercanda harus ada batasnya agar tidak merugikan perasaan orang lain, jangan sampai kata “baper” menjadi alasan seseorang untuk menyakiti. Begitu juga dengan mengeluh, gunung mengajarkan, “mengeluh itu hak setiap orang, tapi hanya orang cerdas yang dapat merubah keluhan menjadi semangat”. Seberat apapun masalah yang kita punya, masih ada Allah Yang Mampu Meringankan. Kita diperintahkan untuk menikmati dan menjaga alam-Nya. Bersyukurlah, beribadahlah, dan kagumilah.

Sekian artikel pertama ini, semoga bermanfaat untuk kalian. Masih banyak informasi yang ingin saya jabarkan he he, Insya Allah artikel selanjutnya saya akan membahas mengenai sifat asli para pendaki. Tahan dulu penasarannya, lebih baik mendaki dan terapkan dulu ilmu di atas :) _SN_

Penulis : Sofura Nida
                 Syaiful Ramdhani
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar